Saturday, March 17, 2012

TAROMBO BATAK


Dalam tarombo Batak (silsilah garis keturunan suku bangsa Batak) dimulai dari seorang individu bernama Raja Batak.
Raja Batak berdiam diri di Pusuk Buhit, Sianjur Mulamula. Sehingga Pusuk Buhit dapat dikatakan sebagai daerah induk asal-mula suku bangsa Batak yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru.
Raja Batak mempunyai 2 (dua) orang putera, yaitu:
  1. Guru Tatea Bulan (Naimarata)
  2. Raja Isumbaon

Guru Tatea Bulan mempunyai 5 (lima) orang putera, yaitu:
  1. Raja Biakbiak
  2. Saribu Raja
  3. Limbong Mulana
  4. Sagala Raja
  5. Silau Raja

Raja Biakbiak adalah putera sulung Guru Tatea Bulan. Raja Biakbiak atau juga disebut dengan Raja Uti tidaklah mempunyai keturunan.

Saribu Raja adalah putera kedua Guru Tatea Bulan. Saribu Raja mempunyai 2 (dua) orang putera yang dilahirkan oleh 2 (dua) isteri. Isteri pertama Saribu Raja adalah Siboru Pareme yang melahirkan Raja Lontung dan isteri kedua Saribu Raja adalah Nai Mangiring Laut yang melahirkan Raja Borbor.

Raja Lontung mempunyai 7 (tujuh) orang putera, yaitu:
  1. Sinaga, menurunkan marga Sinaga dan cabang-cabangnya
  2. Situmorang, menurunkan marga Situmorang dan cabang-cabangnya
  3. Pandiangan, menurunkan Perhutala dan Raja Sonang dan cabang-cabangnya
  4. Nainggolan, menurunkan marga Nainggolan dan cabang-cabangnya
  5. Simatupang, menurunkan marga Togatorop, Sianturi dan Siburian
  6. Aritonang, menurunkan marga Ompu Sunggu, Rajagukguk, dan Simaremare
  7. Siregar, menurunkan marga Siregar dan cabang-cabangnya

Keturunan Raja Borbor membentuk rumpun persatuan yang disebut dengan Borbor Marsada yang terdiri dari marga Pasaribu, Batubara, Harahap, Parapat, Matondang, Sipahutar, Tarihoran, Saruksuk, Lubis, Batubara, Pulungan, Hutasuhut, Tanjung serta Daulay.

Keturunan Limbong Mulana sebagai putera ketiga Guru Tatea Bulan memakai marga Limbong

Keturunan Sagala Raja sebagai putera keempat Guru Tatea Bulan memakai marga Sagala.

Silau Raja sebagai putera bungsu Guru Tatea Bulan menurunkan marga Malau dan cabang-cabangnya.

Raja Isumbaon adalah putera bungsu Raja Batak. Raja Isumbaon mempunyai 3 (tiga) orang putera, yaitu:
  1. Tuan Sorimangaraja
  2. Raja Asiasi
  3. Sangkar Somalidang
Khusus keturunan Raja Asiasi dan Sangkar Somalidang hingga saat ini belum diketahui pasti siapa keturunan mereka.

Tuan Sorimangaraja mempunyai 3 (tiga) orang putera, yaitu:
  1. Raja Naiambaton
  2. Raja Nairasaon
  3. Tuan Sorbadibanua

Keturunan Raja Naiambaton dikenal sebagai keturunan yang terdiri dari berpuluh-puluh marga yang tidak boleh saling kawin (ndang boi masiolian). Kumpulan persatuan rumpun keturunan Raja Naiambaton disebut dengan PARNA (Parsadaan Raja Nai Ambaton).
Marga-marga keturunan Raja Naiambaton, antara lain: Simbolon, Tamba, Saragi, Munte. Dan cabang-cabangnya:
  1. Simbolon Tua (Simbolon, Tinambunan, Tumanggor, Turutan, Pinayungan, Maha, Nahampun)
  2. Tamba Tua (Tamba, Sidabutar, Sijabat, Siadari, Sidabalok)
  3. Munte Tua (Munte, Sitanggang, Sigalingging)
  4. Saragi Tua (Sidauruk, Saing, Simalango, Simarmata, Nadeak, Sidabungke, Rumahorbo, Sitio, Napitu)

Nairasaon adalah kelompok marga dari suku bangsa Batak Toba yang berasal dari daerah Sibisa Marga-marga keturunan Raja Nairasaon, anatara lain: Manurung, Sitorus, Sirait, Butarbutar, dan cabang-cabangnya.MANURUNG menurunkan HUTAGURGUR HUTAGAOL dan SIMANORONI.

Tuan Sorbadibanua mempunyai 8 (delapan) putera, yaitu:
  1. Sibagotnipohan
  2. Sipaettua(Pangulu Ponggok, Partano Nai Borgin,Puraja Laguboti(Pangaribuan,Hutapea)
  3. Silahisabungan
  4. Raja Oloan
  5. Raja Hutalima
  6. Raja Sumba
  7. Raja Sobu
  8. Raja Naipospos
Sibagotnipohan sebagai cikal-bakal marga Pohan mempunyai 4 (empat) putera, yaitu:
  1. Tuan Sihubil, sebagai cikal-bakal marga Tampubolon dan cabang-cabangnya
  2. Tuan Somanimbil, sebagai cikal-bakal marga Siahaan, Simanjuntak, dan Hutagaol
  3. Tuan Dibangarna, sebagai cikal-bakal marga Panjaitan, Silitonga, Siagian, Sianipar, dan cabang-cabangnya
  4. Sonak Malela, menurunkan marga Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, dan Pardede
Marga-marga keturunan Sipaettua, antara lain: Hutahaean, Hutajulu, Aruan, Sibarani, Sibuea, Sarumpaet, Pangaribuan, dan Hutapea.
8 (delapan) Keturunan Silahisabungan yaitu sesuai dengan PODA SAGU-SAGU MARLANGAN (petuah) Raja Silahisabungan kepada anak-anaknya di Huta Lahi, yang pada era kolonial Belanda dikenal Silalahi Nabolak ,yaitu :
  1. Loho Raja (Sihaloho)
  2. Tungkir Raja (Situngkir)
  3. Sondi Raja (Rumasondi)
  4. Butar Raja (Sinabutar)
  5. Bariba Raja (Sinabariba)
  6. Debang Raja (Sidebang)
  7. Batu Raja (Pintu Batu)
  8. Si Raja Tambun (Tambun/Tambunan)
Selain marga tersebut diatas ada lagi anak marga cabang keturunan yakni : Sipakkar, Sipayung, Rumahsondi, Rumahsingap, Silalahi, Sinabutar, Sinabang, Dolok Saribu, Sinurat, Nadapdap, Naiborhu, Ambuyak, Sigiro, Daulay.
Raja Oloan mempunyai 6 (enam) orang putera, yaitu:
  1. Naibaho, yang merupakan cikal-bakal marga Naibaho dan cabang-cabangnya
  2. Sigodang Ulu, yang merupakan cikal-bakal marga Sihotang dan cabang-cabangnya
  3. Bakara, yang merupakan cikal-bakal marga Bakara
  4. Sinambela, yang merupakan cikal-bakal marga Sinambela
  5. Sihite, yang merupakan cikal-bakl marga Sihite
  6. Manullang, yang merupakan cikal-bakal marga Manullang
Raja Hutalima tidak mempunyai keturunan
Raja Sumba mempunyai 2 (dua) orang putera, yaitu:
  1. Simamora, yang merupakan cikal-bakal marga Purba, Manalu, Simamora Debata Raja, dan Rambe
  2. Sihombing, yang merupakan cikal-akal marga Silaban, Sihombing Lumban Toruan, Nababan, dan Hutasoit
Marga-marga keturunan Raja Sobu, antara lain: Sitompul, Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Simorangkir, Hutagalung, Hutapea, dan Lumban Tobing.
Raja Naipospos mempunyai 5 (lima) orang putera yang secara berurutan, yaitu:
  1. Donda Hopol, yang merupakan cikal-bakal marga Sibagariang
  2. Donda Ujung, yang merupakan cikal-bakal marga Hutauruk
  3. Ujung Tinumpak, yang merupakan cikal-bakal marga Simanungkalit
  4. Jamita Mangaraja, yang merupakan cikal-bakal marga Situmeang
  5. Marbun, yang merupakan cikal-bakal marga Marbun Lumban Batu, Marbun Banjar Nahor, Marbun Lumban Gaol

Dalam suku bangsa Batak, selain marga yang satu nenek moyang (satu marga) ditabukan untuk saling kawin, dikenal juga padan (janji atau ikrar) antar marga yang berbeda untuk tidak saling kawin. Marga-marga tersebut sebenarnya bukanlah satu nenek moyang lagi dalam rumpun persatuan atau pun paradaton, tetapi marga-marga tersebut telah diikat padan (janji atau ikrar) agar keturunan mereka tidak saling kawin oleh para nenek moyang pada zaman dahulu. Antar marga yang diikat padan itu disebut dongan padan.
Marga-marga yang mempunyai padan khusus untuk tidak saling kawin, anatara lain:
  1. Sihotang dengan Naipospos (Marbun)
  2. Naibaho dengan Sihombing Lumban Toruan
  3. Nainggolan dengan Siregar
  4. Tampubolon dengan Silalahi
  5. dan lain sebagainya

Seluruh keturunan Raja Naipospos diikat janji (padan) untuk tidak saling kawin dengan keturunan Raja Oloan yang bermarga Sihotang. Sehingga Sihotang disebut sebagai dongan padan. Memang pada awalnya pembentuk janji ini adalah Marbun. Namun ditarik suatu kesepakatan bersama bahwa keturunan Raja Naipospos bersaudara (na marhahamaranggi) dengan keturunan Sihotang. Hal ini dapat dilihat bersama bahwa hingga saat ini seluruh margaNAIPOSPOS SILIMA SAAMA (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang-Marbun) tidak ada yang kawin dengan marga Sihotang. Pengalaman di lapangan bahwa memang ada-ada saja orang yang mempersoalkan padan ini. Mereka mengatakan bahwa hanya Marbun sajalah yang marpadan dengan Sihotang tanpa mengikutsertakan Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang. Perlu diketahui bersama bahwa telah ada ikrar (padan) para nenek moyang (ompu) bahwa padan ni hahana, padan ni angina; jala padan ni angina, padan ni hahana (ikrar kakanda juga ikrar adinda dan ikrar adinda juga ikrar kakanda). Benar Marbunlah pembentuk padan pertama terhadap Sihotang. Tetapi oleh karena Marbun sebagai anggi doli Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang, maka turut juga serta dalam padan dengan Sihotang. Contoh lain dapat pula dilihat bersama bahwa sesungguhnya Sibagariang tidaklah ada ikrar (padan) sama sekali untuk tidak saling kawin (masiolian) dengan Marbun. Tetapi oleh karena Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang marpadan dengan Marbun untuk tidak saling kawin maka Sibagariang pun turut serta dengan sendirinya oleh karena ikrar (padan) para nenek moyang (ompu) yang telah disebutkan di atas. Sehingga suatu padan yang umum bahwa keturunan Raja Naipospos dari isteri I (Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang) tidak boleh saling kawin dengan keturunan Raja Naipospos dari isteri II (Marbun).
Demikian pula halnya seluruh marga-marga keturunan Raja Naipospos (Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, Marbun Lumban Batu, Marbun Banjar Nahor, dan Marbun Lumban Gaol) tidak boleh saling kawin dengan keturunan Sihotang. (Wikipedia)

MERGA SILIMA


1. KARO-KARO 

Barus
Barusjahe, Buntu, Barusjulu, Tanjung Barus, Talimbaru, Serdang, Penampen
Bukit
Bukit, Buluhawar
Guru Singa
Gurusinga, Rajaberneh, Rumah Sumbul
Jung
Kutanangka, Perbesi, Kalang, Batukarang
Kaban
Kabantua, Pernantin
Kacaribu
Kacaribu, Kutagerat
Kemit
Kutabale, Mulawari
Ketaren
Ketaren, Raya, Sibolangit, Pertampilen, Kutabale
Purba
Kabanjahe, Berastagi, Kutakepar, Laucih
Samura
Samura
Karo Sekali
Seberaya, Bertah, Kuta Julu
Sinubulan
Bulanjahe, Bulanjulu
Sinuhaji
Ajijulu, Ajibuhara, Ajimbelang, Ajijahe (Ajisiempat)
Sinukaban
Kaban, Sumbul
Sinulingga
Lingga, Bintangmeriah, Gungmerlawan
Sinuraya
Bunuraya, Kandibata, Singgamanik
Sitepu
Sukanalu Teran, Sukanalu, Naman, Beganding
Surbakti
Surbakti, Gajah




2. GINTING
Ajartambun
Rajamerahe, Bahorok
Babo
Gurukinayan, Munte, Tongging
Siberas
Lau Petundal
Capah
Bukit, Kalang
Garamata
Rajatengah, Tongging
Gurupatih
Buluhnaman, Sarimunte, Naga, Laukapur
Jadibata
Juhar
Jawak
Cingkes
Manik
Tongging, Lingga, Bungabaru
Munte
Kutabangun, Ajinembah, Kubu, Dokan, Munte, Tongging
Pase
Kutabangun
Seragih
Lingga, Jeraya
Sinusinga
Singa
Sugihen
Sugihen, Juhar, Kutabangun
Suka
Suka, Linggajulu, Naman, Berastepu
Tumangger
Kemkem, Kidupen

3. TARIGAN 
Bondong
Lingga
Ganagana
Batukarang
Gerneng
Cingkes
Gersang
Nagasaribu, Seribujandi, Jandiseribu, BErastepu, Kutaraya
Jampang
Pergendangen
Pekan
Batukarang, Sukanalu
Purba
Tanjung Purba, Purba Tua
Silangit
Gunung Meriah
Sibero
Juhar, Kutaraja, Keriahen, Tanjung Beringin, Selakkar
Tambak
Cingkes, Kebayaken, Sukanalu
Tambun
Binangara, Rakutbesi, Sinaman
Tua
Pergendangen
Tegur
Suka, Seribujandi


4. SEMBIRING 

Si La Mantangken Biang
Keloko
Pergendangen, Tualang, Paropo
Kembaren
Samperaya, Liangmelas
Sinulaki
Silalahi, Paropo
Sinupayung
Jumaraja, Nageri

Si Mantangken Biang
Berahmana
Rumah Kabanjahe, Perbesi, LImang, Bekawar
Bunuhaji
Kutatengah, Beganding
Busuk
Kidupen, Lauperimbon
Colia
Kubucolia, Seberaya
Depari
Seberaya, Perbesi, Munte
Gurukinayan
Gurukinayan, Gunungmeriah
Keling
Rajaberneh, Juhar
Maha
Martelu, Pandan, Pasirtengah
Meliala
Sarinembah, Kidupen, Rajaberneh, Naman, Munte
Muham
Susuk, Perbesi
Pandebayang
Buluhnaman, Gurusinga
Pandia
Seberaya, Payung, Beganding
Pelawi
Ajijahe, Perbaji, Selandi, Perbesi, Kandibata
Sinukapar
Sidikalang, Sarintonu, Pertumbuken
Tekang
Kaban


5. PERANGIN-ANGIN 
Bangun
Batukarang, Penampen, Selandi, Narigunung, Jandimeriah
Benjerang
Batukarang
Kacinambun
Kacinambun
Keliat
Marding-ding
Laksa
Juhar
Limbeng
Karo Jahe, Pancur Batu sekitar, Binjai, Deli Serdang
Mano
Pergendangen
Namohaji
Kutabuluh
Penggarun
Susuk
Perbesi
Kutabuluh, Jinabun
Pencawan
Perbesi
Pinem
Juhar, Pernantin, Sidikalang, Taneh Pinem, Kotacane
Sebayang
Kuala, Perbesi, Gunung, Pertumbuken, Kutagerat
Singarimbun
Temburun, Mardingding, Kutambaru, Tanjung
Sinurat
Kerenda, Beganding
Sukatendel
Sukatendel
Tanjung
Pernampen, Berastepu
Ulujandi
Juhar
Uwir
Singgamanik

Sejarah Suku Karo


MIGRASI
Pada pra- sejarah terjadi perpindahan bangsa- bangsa  termasuk di Asia  yang khusus ke Indonesia  datang dari  Asia Selatan  dan Tenggara . Percampuran  darah terjadi  antar  bangsa- bangsa tersebut  dengan penduduk  yang telah bermukim  sebelumnya  di Nusantara  ini merupakan  nenek moyang kita  dan pada umumnya  yang mendiami  pesisir  sebagai orang  bahari.
Menurut Versi Karo : Leluhur  hidup  dari menangkap ikan , bertani, berburu, berdagang , mengarungi samudra luas. Hal ini  diceritakan  bersambung hampir setiap malam  di lantai lumbung padi  yang dinamakan ‘Jambur’  dari purbakala  hingga menjelang  tahun 1940  di daerah yang  penduduknya  suku Karo .
Cerita yang bersambung mengenai seluk beluk asal muasal suku Karo , kebudayaan, bahasa dan adat istiadat serta perjuangan  hidupnya  biasanya di namakan ‘Turi- turin  atau Terombo Karo’. Setiap cerita ditayangkan  melalui lagu merdu pada malam hari sampai dini hari selama tujuh malam.
Aku dulu pernah  mendengarkan cerita bersambung itu sebelum  memasuki bangku sekolah. Karena sudah  dilalui puluhan tahun, bisa jadi ada kelupaan  dalam menguraikan  inti sarinya, terutama  pencocokan daerah kejadian saat dipergunakan  pengetahuan umum geografi  dan sejarah  dunia  atau nasional dalam keadaan tertentu  menurut suasana hikayatnya.
Pada pokok hikayat di uraikan  bahwa  nenek moyang  itu datang ke pesisir Indonesia umumnya dan  Sumatera khususnya  yang menurut logat mereka  “reh ku pertibi si la ertepi  enda”  dari dua  “negeri   nini pemena”  yaitu leluhur Pemula, datang dari dari negeri yang disebut  “YUNA ( YUNAN )”  ialah  dari Cina Selatan dan Asia  Tenggara  serta  “BARAT” yakni Asia Selatan (India , Pakistan, Banglades, dan lain- lain).
Yang datang dari  negeri “Yuna” itu  masih tergolong  “animisme” atau “agama pemena”, sedangkan yang bersal dari “Barat”  sudah beragama, yaitu agama Budha. Suku- suku bangsa pesisir  yang saling  bercampur darah  (perkawinan)  sesamanya  inilah  merupakan nenek moyang  suku  Karo  setelah kelak  masuk  ke daerah  pedalaman (Pembauran).
PEMUKIMAN DATARAN TINGGI  KARO  
Leluhur kita yang  yang bermukim disepanjang  pesisir Sumatera  berkembang  memeluk  kepercayaan  yang beraneka ragam yaitu  animisme, Budha, Hindu, dan lain lain, sebelum maupun sesudah  berdiri  Negara Nasional I (Kedatuan Sriwijaya) dan  Negara Nasional II (Keprabuan  Majapahit) antara abat VII- XVI.
Karena pekerjaan nenek moyang kita  selaku kaum  bahari dan pedagang, maka sudah jelas merekapun bergaullah  dengan orang asing  yang memeluk pelbagai agama, termasuk  Muslim, sehingga kian lama makin banyaklah agama yang dianut penduduk.
Perbedaan agama pun tak dapat dihindahkan. Yang dalam turi- turi Karo diceritakan bahwa dalam  satu keluarga mungkin terdapat dua atau atau beberapa kepercayaan yang berlainan, antara satu dengan yang lainnya. Begitu juga bangsa asing yang memeluk pelbagai macam agama datang ke Indonesia untuk berdagang sambil menyiarkan agamanya masing- masing. Selain  membawa keagamaan juga  mengenai kebudayaan yang mempengaruhi tata kehidupan pendududk.
Demikianlah seorang  pedagang Venesia benama Marcopola pada tahun 1292 telah menyaksikan perkembangan pesat penyiaran agama Islam  didaerah Aceh yaitu  Samudera Pasai dan Peureulak. Pada tahun 1345, menutut Ibnu Batulah, sudah mapan benar agama Islam sebagai anutan  penduduk Di Samudra Pasai, yang keterangannya ini diperkuat pula oleh musyapir Cina bernama Ceng Ho, yang berkunjung ke daerah tersebut tahun 1405.
Menurut versi karo, pada masa- masa itulah terjadi perubahan tata kemasyarakatan yaitu kaum yang tak hendak memeluk agama Islam membentuk kelompok – kelompok . Lalu berpindah ke daerah pedalaman meninggalakan sanak keluarga yang telah  mayoritas beragama Islam. Kemudian agama  Islam meluas berkembang sepanjang pesisir; terutama dalam pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636).
Kemudian maka terjadilah apa yang dinamakan “Mburo Bicok Pertibin”, yaitu mengadakan pengungsian secara besar- besaran  dengan bertekad untuk tidak akan kembali lagi ke negeri asal buat selama- lamanya. Diceritakan pada masa itu hutan raya di daerah pedalaman belum dihuni  oleh manusia .
Bahasa “kita” ialah cakap melawi — , yang kemudian  berubah seperti yang sekarang ini. Perubahan bahasa  terjadi akibat peroses pembauran melalui puak- puak yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya dalam kehidupan adalah logis. Sebagian mereka yang masuk kepedalaman dari arah pantai Timur maupun dari arah pantai Barat, pulau Sumatera.
Mereka yang tertinggal adalah sudah memeluk agama Islam dan hijrah tidak hendak memeluk Islam. Perjalanan memasuki rimba hutan  belantara itu, sangat sukar, perlu ada pemimpin atau Panglimanya. Mereka masuk dan  beranggapan bahwa ditempat yang dituju itu religinya/kepercayannya itu akan aman dilanjutkan sebagai warisan nenek moyangnya.
Diketahui  dalam hikayat bahwa  pemeluk Islam, selalu mangadakan pendekatan dengan saudara-saudaranya yang kini berada di wilayah  pegunungan  dan bergaul saling berkunjung, akhirnya, kaum yang tadinya mempertahankan kebiasaan memuja religi nenek moyangnya itu pelan-pelan  ditinggal mereka dan mereka memeluk Islam. Atau diam- diam status quo, sementara menimbang- nimbang mana patut dilanjutkan dan mana patut diterima, atau ditolak.
Selanjutnya perjalanan yang  sedemikian jauhnya yang disebut ke-dataran tinggi dinyatakan sebagi “taneh tumpah darah”  yang baru kemudian di berikan nama “TANAH KARO SI MALEM”
PERTIBI PERTENDIN MERGA SI LIMA SI ENGGO KA REH IBAS  DESA SI WALUH  NARI
“Tanah Karo Si Malem”  artinya : peryataan bahwa tanah tumpah darah yang baru itu nyaman, hidup atau mijati, akan dipertahankan selamanya. Pertibi Pertendin Merga Silima artinya: Dibata yang telah menetapkan daerah ini untuk pemukiman kaum yang LIMA MARGA terdiri dari  : Karo- Karo , Ginting, Sembiring, Tarigan , Perangin- angin.
“Sienggo ka reh ibas desa siwaluhn nari” artinya: untuk jangka waktu yang lama  tak henti- hentinya datang rombongan pengungsi dari segala penjurui mata angin (delapan  penjuru) kedataran tinggi, sehingga menjadi buah bibir setiap ada rombongnan  terlihat  datang dari pesisir, terucaplah  kata- kata, enggo ka reh… enggo kalakreh enggo kalakreh…( Kareh ) kemudian berubah sebutannya kalak reh, kareh … kare,  Karo , menjadi … KARO, yang artinya  kalak= orang . reh = datang, Karo = orang datang.
Artinya menjadi; orang yang datang sengaja mengungsi  untuk mempertahankan religinya/ kepercayaaannya. Mereka datang dan mengharukan, sebab perjalan mereka itupun jauh, lebih kita terharu, KALAK  AROE = KARO  Mereka itu melanglang, berani, harus keras hati, mandiri, budi luhur tetapi suka bermusyawarah dan mau menerima atau tidak kaku.
Terlihat dalam perkembangannya Merga Karo- Karo, Perangin-angin , Sembiring sebelum berangkat meninggalkan leluhurnya di “Barat” tempo dulu sudah memiliki Indentitas berupa Merga dan Cabang  Merga ,seperti Merga Ginting  dan Merga Tarigan  bersasal dari YUna (Wilayah Selatan ; bahkan ada hubungan atas serangan Mongolia dari utara Jengis Khan  dsb).
Jatidiri berupa “Merga” telah disandang turun temurun. Oleh karena itu sekalipun kelompok itu baru tiba akan mendapat kemudahan untuk mengelompokkannya sesuai Merga yang disebutkan orang yang baru datang. Di Suku Karo hanya ada LIMA MARGA, dan memiliki cabang untuk setiap marga. Sekalipun ada cabang-cabang tiap Marga, tapi tidak terlalu banyak, tidak mencapai ratusan jumlahnya keseluruhannya. Keseluruhan cabang Merga Silima hanya ada 75 cabang.
Meneliti sejarah maka pemukiman orang Karo di dataran tinggi diperkirakan pengungsian awal sekitar tahun 1350-an dan terbanyak tatkala pemerintahan Sultan Iskandar Muda tahun 1660-an sehingga disimpulkan bahwa sudah ada orang Karo tahun 1300-an.
Orang Karo yang datang dengan rombongan tepo dulu ke hutan rimba raya tidaklah besar, sekalipun persyaratannya berangkat “KUH SANGKEP SITELU ” yaitu Kalimbubu,Senina, Anak Beru . Contohnya dalam cerita  bahwa rombongan KARO mergana , berangkat dari LINGGA RAJA menuju  dataran tinggi, sampailah di puncak “Deleng Penolihen” yaitu pegunungan antara “Tiga Lingga – Tiga Binanga” terpaksa di tunda perjalannya. Sekalipun jumlah rombongan sebelas, tetapi tertinggal anak beru-nya Perangin- angin mergana. Terpaksa di jemput lagi kearah asal atau memberi gantinya sebagai  “anak beru”.
Terpenuhilah syarat tadi , tiba mereka disuatu lokasi dan mendirikan “KUTA LINGGA PAYUNG”. Sejak itu nama bukit barisan diantara  Karo – Dairi disebutkan oleh  orang Karo “Deleng Kuh Sangkep”. Setiapa orang Karo mesti dapat dimasukkan dalam salah satu diantara lima marga   tersebut diatas, sebab barang siapa yang yang tidak hendak memakai indentitas demikian, tidak akan diakui sebagai “Kalak Karo” yang dinamakan “nasap tapak nini”, misalnya, banyak dahulu terjadi  orang yang “tercela ahlaknya ” di desanya lalu merantau ke-negeri lain tanpa mejunjujung tinggi merganya atau menggantinya, orang yang memeluk agama Islam dengan menghilangkan indentitasnya itu seraya mengaku orang Melayu  kampung atau “kalak Maya- Maya” terutama di Karo Jahe ” dan lain- lain .
Tetapi sebaliknya setelah terbentuk SUKU KARO, dahulu ada orang dari suku lain sekalipun yang oleh sebab misalnya, mengadakan perkawinan dengan orang Karo bisa diterima Bermerga atau memiliki Beru pada salah satu merga diantara yang lima tersebut. “Merga” ialah indentitas pria yang diturunkan terhadap putrinya akan dinamakan “beru”. Beru adalah indentitas wanita yang diturunkan terhapa putra – putrinya umpamanya , beru Karo, diturunkan kepada putra putrinya dengan sebutan bere- bere  Karo.
Semua indentistas tersebut merupakan lambang suci yang dalam bahasa Karo dinamakan “Tanda Kemuliaan” yang gunanya untuk menghitung berapa tingkat keturunan telah berlangsung merga bersangkutan hingga dirinya sendiri sejak dari nenek moyang yang dahulu berangkat dari negeri asalnya ” yaitu (Barat) bagi keturunan Karo-  Karo , Perangin- angin dan Sembiring, sedangkan  “Yuna” untuk Ginting serta Tarigan.
Hitungan jumlah tingkat keturunan itu dinamakan “Beligan Kesunduten Nini Adi” yang dahulu turun temurun diceritakan sehingga tahulah sesorang akan asal usul dan  nenek moyangnya. Putra-Putri yang seketurunan pantang mengadakan  kawin  mawin sesmanya, sebab indetitasnyaq akan sama buat selama- lamanya, kendatipun dengan memakai “Sub Merga”,yaitu “nama khusus ” yang diciptakan berdasarkan keluarga tertentu dalam suatu desa dan atau sesuatu peristiwa dahulu yang merupakan aliran darah khas pula ,namun harus tunduk kepada pokok merga ,Merga Silima.
Jadi orang Karo terbentuk dari bermacam- macam suku atau puak bangsa yang oleh pengaruh lingkungan daerahnya membentuk watak, adat istiadat dan masyrakatnya yang tertentu yang  mempunyai perasamaan serta perbedaaan dengan suku- suku bangsa Indonesia  lainnya, namun bersifat “mandiri” dalam arti sejak dahulu bebas merdeka mengatur pemerintahannnya.
Akan tetapi karena Tanah karo merupakan daerah pedalaman yang tidak akan dapat berswasembada dalam segala hal akan kebutuhan hidupnya, maka terpaksa jugalah mereka mengadakan hubungan dengan  “suku”  atau  “bangsa lain” terutama mengenai bahan makanan seperti garam  yang disebut “Sira”
Mereka langsung menyebarkan penduduknya keluar batas dataran tinggi karo yang berguna sebagai daerah pengubung dan penyangga serangan dari luar yang menurut logat mereka dinamakan “Negeri Perlanja Sira Ras Pulu Dagang ” yang kini daerah- daerah tersebut ialah  Aceh Tenggara , Dairi, Tapanuli Utara, Simalungun, Asahan, Deli Serdang, dan Langkat.
Pulu dagang ialah pedagang yang membeli garam dan lain lain di pesisir seperti di Langkat, Deli Serdang, Asahan , dan Singkel yang di angkut ke ‘Taneh Pengolihen – Tanah Karo ” oleh satu rombongan manusia yang diberi nama julukan Perlanja Sira, meski ada juga mempergunakan  “Kuda Beban” sebagai alat pengangkutannya. Setiap rombongan  perlanja Sira  dikawal oleh pasukan bersenjata, sebab waktu itu di Deleng Kuh Sangkep (nama bukit barisan yang terletak di  bagaian selatan Tanah Karo) maupun di Deleng  Merga Silima  (nama Bukit Barisan dibagian datyaran tinggi Karo) banyak penyamun serta binatang buas.
Untuk nmengenal kawan dipailah kata “sandi atau kode” di pegunungan sebelah utara  tanah Karo setiap berpapasan dengan rombongan manusia lain diucapkan “Merga” yang kalu kawan menjawab..”Si Lima”  yang dilanjutkan dengan. Taneh Pengolihen yang dijawab teman “Karo Simalem” bila mana tidak sesuai  jawabnya dianggap  “musuh”, demikian sekelumit ceritanya  maka nama  pegunungan yang puncak- puncaknya antara lain gunung Sinabung- Sibayak dinamakan orang  Karo deleng Merga silima.
Sumber: Akun Facebook Ngajarsa Sinuraya Bre Bangun

copas: adat batak


Jumat, 30 April 2010

Adat Batak : PAMULIHON BORU / PANGOLIHON ANAK


Ulaon pamuli boru manang pangolihon anak nunga jot-jot taadopi manang taulahon. Adong do ruhut-ruhut, tahapan, proses ni angka ulaon di si. Molo nasomal adong dua istilah di ulaon i ima: Alap Jual dohot Taruhon Jual. Alap jual namarlapatan ulaon pesta (unjuk) di pihak parboru. Pihak parboru ma na manghobasi sude na hombar tu ulaon pesta. Taruhon jual lapatanna ulaon pesta di pihak paranak jala namanghobasi angka na hombar tu ulaon i.
Ulaon alap jual manang taruhon jual saguru tu dos ni roha (kesepakatan) ni pihak parboru dohot pihak paranak do i. Nian adong do deba parboru na so bersedia pamulihon boruna molo so dialap jual. Hape sasintongna ulaon alap jual manang taruhon jual sarupa manghorhon tu na denggan do i molo dipatupa sian do ni roha.
Rumang dohot tahapan ni ulaon pamuli boru manang pangoli anak na somal diulahon di tano parserahan on, tarlumobi di Jabotabek, hira songon on ma:
1.      Hori-hori dinding,
2.      Patua hata dohot Marhusip (Mangarangrangi),
3.      Partumpolon,
4.      Martonggo raja/Marria raja,
5.      Sibuha-buhai,
6.      Pamasu-masuon,
7.      Marhata sinamot dohot ulaon unjuk,
8.      Paulak une/maningkir tangga.
I ma nasomal taida diulahon di Jakarta sekitarna on. Taringot tu pangatusion di tahapan ni ulaon pinatorang do di tulisan on. Alai songon naung taboto tangkas, ulaon adat-paradaton ni hita Batak Toba, sifatna dinamis mangihut-ihut perkembangan di zaman. Molo tung pe adong hata ni natua-tua na mandok:
Ompu raja di jolo martungkot sialagundi.
Adat napinungka ni ompunta naparjolo,
diihuthon angka na di pudi,
alai gabe adong do niida sian angka dongan na mandok songon on:
Ompu raja di jolo martungkot sialagundi,
Adat napinungka ni ompunta na parjolo,
dipaune-une na di pudi.
Nuaeng sahat ma hita tu lapatan dohot pangantusion taringot tu rumang ni ulaon i.
A. Marhori-hori Dinding
Molo dung masitandaan jala masihaholongan si baoa dohot si boru, dipaboa ma i tu angka natua-tuana. Disuru natua-natua ni par-anak ma manang na piga halak boruna manopot boru ni parboru songon na masitandaan, huhut manghata-hatai taringot tu angka sangkap nasida. Di tingki on, olo na ma gabe langsung pihak paranak rap dohot pamoruonna mandapothon pihak parboru.
Di ulaon marhori-hori dinding ndang mardalan do pe adat-paradaton. Alai somalna diboan paranak do songon buah tangan nasida, i ma berupa lampet, kue manang buah-buahan. Prinsipna hira masipasahatan pangidoan do paranak dohot parboru, i ma taringot tu rumang ni ulaon, godang ni sinamot, godang ni ulos, godang ni undangan, dohot angka na asing. Hira sian panghataion na marhori-hori dingding on do dasar ni panghataion di ulaon na mangihut. Lapatanna, angka dos ni roha ni hasuhuton do tarida di son. Jala molo dung adong dos roha nasida, ditontuhon ma sada ari (tingki) asa ro paranak laho patua hata dohot marhusip (mangarang-rangi).
B. Patua Hata dohot Marhusip
Ala naung dos roha ni paranak dohot parboru, di ari naung ditontuhon, ro ma paranak dohot manang piga uduranna (dongan tubuna, boru, bere) mandapothon parboru. Diboan do di si sipanganon na marsaudara jala tangkas do i dipasahat dohot dihatahon lapatanna tu parboru. Parboru pe dipatupa do dekke laho sipasahatonna tu paranak. Di ulaon i, dijou parboru do manang piga dongan tubuna, boru dohot berena, songon i dongan sahuta.
Dung sidung marsipanganon dipungka ma panghataion. Na parjolo, di sungkun parboru ma taringot tu tudu-tudu ni sipanganon naung pinasahat ni paranak tu nasida. Dialusi paranak ma, jala tangkas ma didok surung-surung ni parboru ma i. Ditorushon ma muse panghataion, ima na masitariparan hata, lumobi di pangidoan ni paranak di naro nasida patua hata. Molo dioloi jala digabehon parboru di napatua hata i, pintor mangido jala mangelek ma muse paranak asa ditingkathon nian panghataion tu marhusip mangarangrangi.
Molo dung dioloi jala digabehon parboru tu ulaon namarhusip, dilehon ma tingki dohot kesempatan tu paranak laho patolhashon, manariashon angka sangkap pangidoan nasida.
Parjolo, dipangido paranak ma bentuk ni ulaon (alap jual manang taruhon jual) dohot ulaon sadari. Paduahon, ima taringot tu somba ni uhum, somba ni adat, sinamot ni boru: Misalna, didok sahali mangelekhon, sahali manombahon, dalam bentuk sinamot sitombol rambu pinudun dohot angka pangidoan na asing dope. Molo dung singkop jala dapot dos ni roha di angka rumang ni ulaon i, digabehon parboru ma i.
Dung i muse dilehon parboru do kesempatan tu paranak laho pasahathon pangidoan nasida, i ma taringot ulos herbang si jaloon nasida sian parboru muse di ulaon unjuk. Taringot tu bilanganna, unang ma lobi nian sian 17 bulung.
Jadi molo dung denggan mardalan sude na i, mardalan ma muse ingot-ingot, ima berupa hepeng sian paranak dohot parboru laho dibagi-bagihon tu angka tuturna na ro di ulaon patua hata dohot marhusip i. Lapatanna, asa ingot nasida saluhutna di angka rencana ni ulaon naung ditolopi nasida. Jala laos mangihut ma dipangido asa ditanda nasida kedua calon penantin. Calon pengantin baoa manjalangi pihak parboru, calon pengantin boru manjalangi pihak paranak.
Hira-hira songon i ma rumangna dohot pangantusion tusi. Taringot tu ruhut ni panghataion pinatupa do di buku on asa ummura muse ulahononta.
C. Partumpolon/Martumpol
Partumpolon (parpadanan) ulaon parhuriaon do on. Ndang apala pinatorang be on, ala tangkas do taantusi hira-hira lapatan dohot tujuan ni partumpolon i. Naporlu sipingkiranta ima taringot tu angka ise do na laho sigokhononta tu ulaon partumpolon i. Molo nasomal taida, sahat do tu horong ni angka hula-hula dohot tulang. Hape somalna muse taulahon di Jabotabek sekitarna, dung sidung acara partumpolon di gareja pintor diuduti do tu ulaon martonggo raja manang marria raja. Adong na deba laos di aula manang di gedung dipatupa ulaon martongo raja manang marria raja, alai adong do na mangulahonsa di bagas ni parboru manang paranak, saguru tu situasi dohot kondisi ni hasuhuton do i.
Sungkun-sungkun tu hita, beha molo dung sidung partumpolon langsung dipatupa ulaon marhata sinamot manang didok pudun saut. Alana di tingki i, nunga hira lengkap undangan sian angka tutur, songoni sian horong ni hula-hula dohot tulang. Alai margeser (berubah) ma muse ari (tingki) na martonggo raja manang marria raja.
Nunga adong di Jakarta dohot nahumaliangna on mangulahon ulaon marhata sinamot (pudun saut) dung sidung acara partumpolon, alai saguru ma i tu dos ni roha ni hasuhuton paranak dohot parboru.
D. Martonggo Raja – Marria Raja
Molo didok martonggo raja manang marria raja, na marlapatan do i mangido pangurupion, panuturion di angka na mardongan tubu, boru, bere, dongan sahuta, molo marulaon pamulihon boru manang pangolihon anak. Disubut jala dibuat suhut do roha ni angka tutur asa rade jala dohot nasida berpartisipasi di ulaon I hombar tu ruhut-ruhut ni paradaton, jala hira di tingki on ma dibagihon (didistribusihon) undangan tu angka tutur. Dipatupa hasuhuton di si sipanganon. Jala molo tung adong pe dipatupa di si tudu-tudu ni sipanganon hira jambar ni adopan (jambar bersama) do i. Di tingki on ma sude dihatai angka persiapan ulaon, Raja Parhata, dohot angka na porlu di ulaon i jala ise namangulahon (pembagian tugas).
Pinatorang ma jolo saotik taringot tu pangantusion martonggo raja dohot marria raja. Molo di ulaon alap jual รข€“lapatanna ulaon di alaman ni parboru– pihak parboru ma na mambahen martonggo raja, di paranak marria raja. Sebalikna, molo di pihak paranak ulaon (taruhon jual), dipamasa paranak ma ulaon martonggo raja, jala parboru mambaen marria raja.
E. Marhata Sinamot
Marhata sinamot, i ma puncak ni ulaon paradaton di na pamulihon boru manang pangolihon anak. Angka rumang dohot pangkataion di ulaon i dipatupa do di buku on songon pegangan di hita. Namarhata sinamot di buku on ima namarhata sinamot na dipasada dohot pesta unjuk dung sidung pamasu-masuon sian gareja, songon naung somal taida jala taulahon di Jakarta dohot nahumaliangna.
Nian godang do angka sungkun-sungkun taringot tu ulaon na marhata sinamot nadipasada dohot pesta unjuk. Sipata lucu manang erget di bagasan roha, molo nirimangan jala piningkiran ruhut-ruhut ni ulaon paradaton i. Misalna, pengantin nunga dipasu-pasu resmi di gareja, ruhut jambar dohot ruhut paradaton nunga adong naung mardalan, hape so marhata sinamot dope. Namarhusip (mangarang-rangi) ndang na marhata sinamot dope. Alai, gabe sada keputusan dos ni roha ni parboru dohot paranak do i siboanonna di na marhata sinamot.
Nian muse molo tarimangi do rohanta, gabe songon sandiwara nama angka panghataion di na marhata sinamot i. Alana, sude ruhut dohot rumang ni angka ulaon nunga sian dos ni roha ni parboru dohot paranak. Molo tung pe mardalan pinggan panungkunan jala masitariasan angka panghataion, songon na pahantushon nama i jala asa tung tangkas dibege angka tutur loloan natorop, lumobi sian angka hula-hula dohot angka tulang ni parboru dohot paranak. Hombar tu si, sangat berperan ma di son parhata (parsinabul) ni kedua pihak asa mangolu jala uli tarida angka ruhut ni panghataion, songon i di angka elek jala somba maradophon hula-hula dohot tulang, manat di namardongan tubu, dohot di angka ruhut ni partuturan.
F. Sibuha-buhai
Ulaon sibuha-buhai ima naparjolo diulahon di manogot ni ari pesta (unjuk), baik di ulaon alap jual manang taruhon jual. Jala tangkas do i dihatai/disepakati parboru dohot paranak di tingki na marhusip. Ulaon adat do on jala tangkas do diboan paranak sipanganon namarsaudara tu bagas ni parboru. Songon i sian parboru dipatupa do dekke di si jala tangkas dihatahon dohot dipasahat tu paranak. Sibuha-buhai dipatupa sogot manogot i andorang so borhat tu gareja jala mangido tangiang tu Tuhanta asa tiur-tiur ulaon i, suang songon i do di angka na mamuhai partuturon asa gabe jala horas-horas muse, songon hata ni natua-tua namandok:
Sinuan bulu sibahen nalas
Sinuan partuturon sibahen nagabe jala horas

Di ulaon sibuha-buhai on biasana suhut parboru mangalehon upa-upa tu boru dohot calon helana, marhite sipanganon dohot dekke di ginjang ni pinggan pasu, namarlapatan asa gabe sada uduran, sada pingkiran, sada keluarga na denggan nasida, si sada roha di keluarga nasida muse, jala biasana inang ni boru muli do pasahathon i.
G. Paulak Une dohot Maningkir Tangga
Molo didok paulak une, ima nahombar tu ulaon sadari, jala mardalan do adat-paradaton di son. Dipatupa paranak do sipanganon laho pasahatonna tu parboru. Songon i sian parboru, dipatupa do dekke dohot boras sipir ni tondi sipasahaton-na tu paranak. Ima boanon nasida tu bagas na be. Alai porlu do botoon jala ingotonta, andorang so ulaon napaulak une, jolo mardalan do olop-olop dohot namarhata sigabe-gabe.
Paulak une on ma hira pangujungi ni ulaon di ulaon unjuk nasomal dipatupa di tingki on. Jala muse somal do diulaon on mardalan upa panaru didok, napinasahat ni paranak tu boru ni parboru, suang songon i molo adong angka hepeng pasituak natonggi sian paranak tu natua-tua ni parboru.
Sumber : Bungaran Simanjuntak ( simanjuntak.or.id )

Tuesday, March 13, 2012

Tata Cara dan Urutan Pernikahan Adat Na Gok

1. Mangarisika..

Adalah kunjungan utusan pria yang tidak resmi ke tempat wanita dalam rangka penjajakan. Jika pintu terbuka untuk mengadakan peminangan maka pihak orang tua pria memberikan tanda mau (tanda holong dan pihak wanita memberi tanda mata). Jenis barang-barang pemberian itu dapat berupa kain, cincin emas, dan lain-lain.
2. Marhori-hori Dinding/marhusip..
Pembicaraan antara kedua belah pihak yang melamar dan yang dilamar, terbatas dalam hubungan kerabat terdekat dan belum diketahui oleh umum.
3. Marhata Sinamot..
Pihak kerabat pria (dalam jumlah yang terbatas) datang oada kerabat wanita untuk melakukan marhata sinamot, membicarakan masalah uang jujur (tuhor).
4. Pudun Sauta..
Pihak kerabat pria tanpa hula-hula mengantarkan wadah sumpit berisi nasi dan lauk pauknya (ternak yang sudah disembelih) yang diterima oleh pihak parboru dan setelah makan bersama dilanjutkan dengan pembagian Jambar Juhut (daging) kepada anggota kerabat, yang terdiri dari :
1. Kerabat marga ibu (hula-hula)
2. Kerabat marga ayah (dongan tubu)
3. Anggota marga menantu (boru)
4. Pengetuai (orang-orang tua)/pariban
5. Diakhir kegiatan Pudun Saut maka pihak keluarga wanita dan pria bersepakat menentukan waktu Martumpol dan Pamasu-masuon.
5. Martumpol (baca : martuppol)
Penanda-tanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan anak-anak mereka dihadapan pejabat gereja. Tata cara Partumpolon dilaksanakan oleh pejabat gereja sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tindak lanjut Partumpolon adalah pejabat gereja mewartakan rencana pernikahan dari kedua mempelai melalui warta jemaat, yang di HKBP disebut dengan Tingting (baca : tikting). Tingting ini harus dilakukan dua kali hari minggu berturut-turut. Apabila setelah dua kali tingting tidak ada gugatan dari pihak lain baru dapat dilanjutkan dengan pemberkatan nikah (pamasu-masuon).
6. Martonggo Raja atau Maria Raja.
Adalah suatu kegiatan pra pesta/acara yang bersifat seremonial yang mutlak diselenggarakan oleh penyelenggara pesta/acara yang bertujuan untuk :
Mempersiapkan kepentingan pesta/acara yang bersifat teknis dan non teknis
Pemberitahuan pada masyarakat bahwa pada waktu yang telah ditentukan ada pesta/acara pernikahan dan berkenaan dengan itu agar pihak lain tidak mengadakan pesta/acara dalam waktu yang bersamaan.
Memohon izin pada masyarakat sekitar terutama dongan sahuta atau penggunaan fasilitas umum pada pesta yang telah direncanakan.
7. Manjalo Pasu-pasu Parbagason (Pemberkatan Pernikahan)
Pengesahan pernikahan kedua mempelai menurut tatacara gereja (pemberkatan pernikahan oleh pejabat gereja). Setelah pemberkatan pernikahan selesai maka kedua mempelai sudah sah sebagai suami-istri menurut gereja. Setelah selesai seluruh acara pamasu-masuon, kedua belah pihak yang turut serta dalam acara pamasu-masuon maupun yang tidak pergi menuju tempat kediaman orang tua/kerabat orang tua wanita untuk mengadakan pesta unjuk. Pesta unjuk oleh kerabat pria disebut Pesta Mangalap parumaen (baca : parmaen)
8. Pesta Unjuk
Suatu acara perayaan yang bersifat sukacita atas pernikahan putra dan putri. Ciri pesta sukacita ialah berbagi jambar :
1. Jambar yang dibagi-bagikan untuk kerabat parboru adalah jambar juhut (daging) dan jambar uang (tuhor ni boru) dibagi menurut peraturan.
2. Jambar yang dibagi-bagikan bagi kerabat paranak adalah dengke (baca : dekke) dan ulos yang dibagi menurut peraturan. Pesta Unjuk ini diakhiri dengan membawa pulang pengantin ke rumah paranak.
9. Mangihut di ampang (dialap jual)
Yaitu mempelai wanita dibawa ke tempat mempelai pria yang dielu-elukan kerabat pria dengan mengiringi jual berisi makanan bertutup ulos yang disediakan oleh pihak kerabat pria.
10. Ditaruhon Jual.
Jika pesta untuk pernikahan itu dilakukan di rumah mempelai pria, maka mempelai wanita dibolehkan pulang ke tempat orang tuanya untuk kemudian diantar lagi oleh para namborunya ke tempat namborunya. Dalam hal ini paranak wajib memberikan upa manaru (upah mengantar), sedang dalam dialap jual upa manaru tidak dikenal.
11. Paranak makan bersama di tempat kediaman si Pria (Daulat ni si Panganon)
1. Setibanya pengantin wanita beserta rombongan di rumah pengantin pria, maka diadakanlah acara makan bersama dengan seluruh undangan yang masih berkenan ikut ke rumah pengantin pria.
2. Makanan yang dimakan adalah makanan yang dibawa oleh pihak parboru
12. Paulak Unea..
a. Setelah satu, tiga, lima atau tujuh hari si wanita tinggal bersama dengan suaminya, maka paranak, minimum pengantin pria bersama istrinya pergi ke rumah mertuanya untuk menyatakan terima kasih atas berjalannya acara pernikahan dengan baik, terutama keadaan baik pengantin wanita pada masa gadisnya (acara ini lebih bersifat aspek hukum berkaitan dengan kesucian si wanita sampai ia masuk di dalam pernikahan).
b. Setelah selesai acara paulak une, paranak kembali ke kampung halamannya/rumahnya dan selanjutnya
memulai hidup baru.
13. Manjahea.
Setelah beberapa lama pengantin pria dan wanita menjalani hidup berumah tangga (kalau pria tersebut bukan anak bungsu), maka ia akan dipajae, yaitu dipisah rumah (tempat tinggal) dan mata pencarian.
14. Maningkir Tangga (baca : manikkir tangga)
Beberapa lama setelah pengantin pria dan wanita berumah tangga terutama setelah berdiri sendiri (rumah dan mata pencariannya telah dipisah dari orang tua si laki-laki) maka datanglah berkunjung parboru kepada paranak dengan maksud maningkir tangga (yang dimaksud dengan tangga disini adalah rumah tangga pengantin baru). Dalam kunjungan ini parboru juga membawa makanan (nasi dan lauk pauk, dengke sitio tio dan dengke simundur-mundur).Dengan selesainya kunjungan maningkir tangga ini maka selesailah rangkaian pernikahan adat na gok.

Tahapan Pernikahan Secara Adat Karo


Suku Karo adalah salah satu Suku yang mendiami beberapa wilayah di daerah Sumatera Utara, dan sebagian kecil lainnya tinggal dan menyebar diseluruh wilayah Indonesia, dan bahkan ada juga yang tinggal di Luar Negeri.

Pengantin Dalam Pakaian Adat Karo (newlywed.in)
Pengantin Dalam Pakaian Adat Karo (newlywed.in)
Dalam pernikahan secara adat Suku Karo dikenal 3 tahapan umum yang dilakukan dalam melaksanakannya. Didalam 3 tahapan umum ini akan dibagi lagi menjadi sub tahapan.
Adapun tahapan pernikahan yang dilakukan secara adat Suku Karo secara umum adalah sebagai berikut:
I. Persiapan Kerja Adat
1. Sitandan Ras Keluarga Pekepar 
Tahapan ini adalah tahapan perkenalan antara keluarga kedua belah pihak yang akan melangsungkan pernikahan, sekaligus orang tua kedua belah pihak akan menyampaikan kepada “Anak Beru” masing-masing untuk menentukan hari yang baik untuk menggelar pertemuan di rumah pihak “Kalimbubu” untuk membahas rencana “Mbaba Belo Selambar”
2. Mbaba Belo Selambar
Dalam tahapan Mbaba Belo Selambar ini, tempat berkumpul, yaitu di rumah pihak “Kalimbubu”, dalam hal ini pihak laki-laki akan membawa makanan yang sudah dimasak lengkap dengan lauk yang akan menjadi makanan sebelum dilakukan pembicaraan mencari hari yang baik untuk melaksanakan tahapan “Nganting Manuk”
3. Nganting Manuk
Dalam tahapan ini akan membicarakan tentang utang-utang adat pada pesta perkawinan yang akan segera digelar, sekaligus merencanakan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan. Namun hari pernikahan tidak boleh lebih 1 bulan sesudah melaksanakan tahapan Ngantig Manuk.
II. Hari Pesta Adat
4. Kerja Adat
Pelakasanaan Kerja Adat biasanya dilakukan selama seharian penuh di kampung pihak perempuan. Tempat pelaksanaan Kerja Adat biasanya dilakukan di Balai Desa atau yang biasa juga disebut dengan istilah “Jambur” atau “Lost”
5. Persadan Tendi
Pelaksanaan Persadan Tendi dilakukan pada saat makan malam sesudah siangnya dilakukan Kerja Adat bagi pengantin pria dan wanita. Dalam pelaksaan Persadan Tendi ini akan disiapkan makanan bagi kedua pengantin yang tujuannya adalah untuk memberi tenaga baru bagi pengantin. Pengantin akan diberi makan dalam satu piring yang sudah siapkan.
III Sesudah Pesta Adat
6. Ngulihi Tudung
Ngulih tudung dilaksanakan setelah 2-4 hari setelah hari Pesta Adat berlalu. Orang tua pihak laki-laki kembali datang kerumah Orang tua pihak perempuan (biasanya pihak orang tua laki-laki membawa makanan dan lauk). Dalam prosesi Ngulihi Tudung dilakukan untuk mengambil kembali pakaian-pakaian adat pihak laki-laki yang mungkin ada tertinggal di Desa pihak perempuan disaat pesta adat digelar.
7. Ertaktak
Pelaksanaan ini dilakukan di rumah pihak kalimbubu (pihak perempuan) pada waktu yang sudah ditentukan, biasanya seminggu setelah kerja adat. Disini dibicarakanlah uang keluar saat pergelaraan pesta adat dilaksanakan. Dibicarakan pula tenang pengeluaran kerja adat yang sudah dibayar terlebih dahulu oleh pihak anak beru, sembuyak dan juga Kalimbubu. Setelah acara Ertaktak dilaksanakan, maka semua pihak baik Kalimbubu, Sembuyak, dan Anak Beru akan makan bersama-sama.